Duta Garden

Berhati Nyaman


0   496
Doneeh @ 16 Nop, 2015

Tidak ada alasan khusus mengapa saya dan tim memutuskan untuk menginap di hotel ini, terus terang kami memilihnya secara acak, tapi apa yang saya dapatkan bisa membuat saya tersenyum dan merasa lega karena hotel yang kita pilih berbeda dengan hotel-hotel sebelumnya yang pernah kita ulas.

Setelah sempat kesulitan mencari lokasi karena GPS tidak menunjukan lokasi yang jelas, akhirnya saya dan tim tiba di hotel setelah matahari tenggelam. Sempat bingung mencari lobi karena lokasi hotel berada di dua lokasi yang saling berseberangan dan lampu-lampu yang redup. Setelah diarahkan oleh staf hotel, saya bisa menemukan lobinya, ternyata ada di gedung sebelah kanan jalan (timur).

Sepertinya tidak banyak yang menginap pada malam itu karena resepsionis sudah menyiapkan berkas-berkas dengan nama saya tertera di atas meja, berarti saya yang paling terakhir check-in. Sambil mengisi data, seorang staf datang membawakan kami jus jeruk dingin dengn senyum khas Jogja yang ramah. Banyak peraturan yang sangat ketat di hotel ini, salah satunya adalah maksimal jumlah orang. Maksimal 2 orang dewasa di kamar yang kami pesan, karena malam itu kami datang bertiga, jadi harus membayar ekstra, 90 ribu untuk tambahan 1 orang yang sudah termasuk sarapan pagi.

Suasana langsung berubah saat kami masuk kedalam kawasan hotel, perasaan gerah dan lelah sepertinya hilang seketika dihapus suara kesunyian dengan melodi aliran air dan percikan-percikan kecil yang di-dirijeni ikan-ikan di kolam.

Tiba dikamar ada rasa kecewa yang timbul, tidak seperti yang saya harapkan. Saat berjalan menuju kamar melewati taman dan kolam. dalam pikiran saya terbayang kamar dengan unsur kayu yang kuat dengan kamar mandi dengan batu-batu alamnya, tapi ternyata yang saya pikirkan semua salah.

Tidak ada yang spesial di kamar ini. Lantai tidak nyaman untuk telanjang kaki, posisi furnitur dan komponen kamar lainnya sepertinya tidak ditata rapi, pendingin ruangan tepat berada di atas salah satu tempat tidur, terlihat besar dan sepertinya memberikan isyarat “hayo kalau mau masuk angin, tidur bawahku”. Kamarnya memang besar, tapi dengan kelengkapannya yang minim dan furnitur-furnitur kecilnya membuat kamar terlihat tidak seimbang.

Yang paling mengecewakan buat saya adalah kamar mandinya. Kamar mandinya sangat luas, terlalu luas menurut saya. Dengan kelengkapan yang sangat minim dan banyak yang sudah rusak, terkesan seperti kamar mandi hotel kelas melati. Toilet di kamar saya tutupnya sudah pecah, keran air juga sudah rusak tapi bisa berfungsi. Tidak ada bidet spray (toilet shower), jadi harus menggunakan tisu toilet yang posisinya aneh atau masuk ke bathtub, tapi jangan takut, sudah disediakan gayung sebagai pengganti :v.

Tidak ada yang bisa kami lakukan di hotel malam itu, tidak ada bar atau tempat nongkrong didalam hotel, sunyi, sepi. Bangun pagi badan terasa sangat segar, sepertinya malam itu saya tidur sangat nyaman. Setelah cuci muka, kami langsung menuju restoran yang letaknya di samping lobi hotel.

Tak banyak menu sarapan pagi itu, hanya ada cereal, nasi goreng, telur, roti, buah dan sepertinya lontong sayur. Rasa cukup standar, tidak kecewa. Staf sangat ramah melayani, semua menyapa dengan senyum yang membuat suasana pagi semakin segar dan nyaman.

 


Sudah jarang saya temui hotel-hotel seperti ini di kota Jogja, hotel yang masih mempertahankan kebudayaan dan tradisi Jogja dengan kesederhanaan dan rendah hatinya. Hotel ini bukanlah hotel dengan bangunan dan fasilitas mewah, tapi keramahan, kenyamanan dan suasananya yang membuat hotel ini mewah, atmosfirnya yang membuat hati menjadi nyaman.