Greenhost

Hijau yang Galau


0   576
Doneeh @ 05 Nop, 2015

Karena banyak masukan dan rekomendasi temen-temen, akhirnya kami menginap juga di hotel ini. Semua bilang hotel ini bagus, kekinian, lain dari yang lain dan semua omongan yang bikin kami penasaran.

Kami tiba di hotel sore, setelah berusaha memarkirkan mobil di tempat parkir yang sempit, saya langsung menuju lobi. Tak ada pintu masuk utama disini, hanya ruangan terbuka berbentuk atrium dengan atap kaca dan tumbuhan hijau menghiasi dindingnya. Kesan pertamanya memang begitu mengesankan, ini memang hotel yang berbeda, seperti masuk kedalam indoor garden atau green house.

Tema dan furnitur kamar sangat unik, memanfaatkan kayu limbah (reclaimed wood) dari pallet pinewood dipadukan dengan nuansa semen cor yang seakan menegaskan unsur industrial dari kamar ini. Ini adalah kamar Deluxe, saya suka temanya, karena kebetulan saya hobi kayu, saya juga suka dengan furniturnya. Tapi setelah beberapa lama, jadi agak aneh, lantai semen jadi terasa kotor dan tidak nyaman untuk kaki yang telanjang, terpaksa harus menggunakan alas kaki, tapi kenapa tidak ada sandal kamar ya?

Kamar mandinya saya kurang suka, apalagi dengan kaca besarnya yang menghubungkan tempat tidur dengan kamar mandi. Finishing didalam kamar mandi sepertinya terburu-buru, banyak paku yang tidak terpendam sempurna, banyak paku-paku bengkok yang mengunci sambungan-sambungan kayu. Kebersihan ok, lantai tidak menggunakan semen, tapi dibuat rata permukaannya dan tidak ada sekat permanen antara lokasi shower dengan wastafel dan closet, jadi kalu kita mandi, airnya kemana-mana, banjir. Ada tirainya sih, tapi tidak cukup tinggi untuk menutupi cipratan air dan kurang panjang, jadi saya harus pilih menutupi kaca besarnya atau menutupi cipratan airnya.

Tak ada yang bisa kami lakukan di malam hari, karena hotel ini memang minim fasilitas, jadi kami hanya duduk di restoran sambil menikmati minuman. Tak ada bar dan minuman keras disini, yang beralkohol hanya bir saja, tapi karena hotel ini berada di kawasan turis, banyak bar dan cafe di daerah sini jika kita mau jalan.

Pagi hari saya dibangunkan oleh suara raungan mesin gerinda dan mesin gergaji yang begitu nyaring. Pada saat kami menginap memang di beberapa bagian hotel ini sedang di renovasi, tapi prosesnya sangat mengganggu kenyamanan dan seperti tidak terjadwal dan terstruktur rapi. Pekerja hilir mudik dengan alat-alat, ramah memang, tapi seperti berada didalam proyek yang belum jadi.

Setelah matahari menyinari atrium, baru terlihat detail tanaman yang tersusun di pipa-pipa pagar lantai. Seperti tidak di urus. Banyak lubang kosong dan irigasinya seperti tidak bekerja dengan baik. Ada beberap titik kebocoran pipa yang bisa saya lihat dan airnya menetes dari lantai 2 ke lantai 1. Sangat disayangkan ya, padahal jika diurus dengan benar, hotel ini akan kelihatan sangat indah.

Karena ada masalah dengan perut, saya tidak ikut sarapan, hanya mencicipi jus dan susu. Tidak banyak pilihan makanan disini, karena tidak makan, jadi saya tidak bisa komentar mengenai rasanya. Pelayanan cukup memuaskan, semua terlihat ramah dengan senyumnya. Restorannya tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja kecil, uniknya, dapurnya dibuat terbuka, jadi kita bisa melihat langsung koki yang sedang memasak.

Karena sudah hampir siang dan katanya area atrium mau ditutup karena ada proses shooting film AADC2, jadi tidak ada dari kami yang mencoba kolam renangnya. Setelah kami selesai ambil gambar kami check out, karena ya tidak ada yang bisa kami lakukan lagi disini.

 


Kesimpulannya, saya suka sekali dengan konsepnya, suka dengan desainnya. Benar-benar konsep yang berbeda dari hotel-hotel lainnya yang ada di jogja, tapi saya kecewa dengan pengelolaannya, kecewa dengan fasilitasnya yang terlalu minim. Ini adalah hotel untuk bermalam, bukan hotel yang membuat kita betah didalamnya, seandainya terurus dengan baik, mungkin akan berbeda atmosfernya.