Jambuluwuk Malioboro

Denyut Alunan Budaya Lama


0   506
Lintang @ 29 Okt, 2015

Gedung baru dengan 7 lantai yang mencoba mengangkat kembali kebudayaan jawa yang mulai terlupakan, menjulang tinggi di pusat kota dan bisa menjadi salah satu pilihan alternatif menginap anda ditengah kota.

Saat anda pertama datang saya langsung diarahkan oleh sekuriti untuk langsung menuju lobi hotel atau area parkir yang ada di basement hotel, mengarahkan guna mempercepat hilir mudik lajunya kendaraan dikawasan hotel karena memang area depan hotel yang sedikit kecil tidak memungkinkan anda untuk berhenti agak lama serta memang kawasan Jalan Gajah Mada Yogyakarta yang tidak begitu lebar menjadi salah satu faktor begitu singkatnya waktu kita di depan hotel.

Setelah masuk ke dalam lobi hotel, saya melihat beberapa kerajinan jawa, ornamen jawa, dan budaya jawa yang terpasang di setiap sudut lobi. Saya langsung beranggapan bahwa hotel ini sepertinya ingin mengangkat atau memperjuangkan kembali budaya jawa yang secara perlahan telah mulai padam.

Dilantai 7 tempat kami dan tim inapinap.com menginap, tepat dari luar jendela saya dapat melihat berbagai macam aktivitas warga lokal yang berada di area belakang hotel dan jalan Mataram Yogyakarta. Ya, hotel ini memang bergandengan dengan kawasan perkampungan yang lumayan padat penduduknya. Akses ketengah kota yang sangat dekat menjadi salah satu keunggulan yang bisa kita dapat jika ingin bermalam disini.

Malam hari di Batik Lounge, saya dan tim mencoba untuk mencicipi beberapa kesegaran yang ditawarkan oleh Jambuluwuk Malioboro Boutique Hotel ini. Live music menemani kami selama berada di sana. Pilihan menu yang sangat banyak, dari yang minuman beralkohol dan tidak beralkohol, dari beberapa macam makanan ringan hingga makanan berat ada juga disana membuat saya bingung untuk menentukan menu pilihan apa yang akan menemani saya di malam itu.

Restoran dipagi hari sudah siap dengan berbagai menu dari makanan jawa kuno sampai ke menu internasional pun sudah hangat di tempatnya masing masing. Saya mulai makan beberapa makanan yang tersajikan disana. Akan tetapi saya sedikit kurang suka akan rasa dan sajian yang ada disana. Porsi yang disajikan tidak terlalu banyak di setiap wadahnya, rasa yang menurut saya kurang keluar saat di lidah, dan padatnya setting restoran yang menjadi faktor kurangnya kelegaan dan kenyamanan disana.

Dari parameter 1 sampai 10 saya akan memberikan 7 untuk restorannya. Setelah sarapan, didalam kamar saya di tawari untuk menerima salah satu fasilitas disana. Massage atau pijat gratis lah yang menjadi tawaran jamuan untuk saya dan tim disana. Tetapi karena saya dan tim memutuskan untuk berenang, jadi kami tidak mengambil fasilitas pijat disana.

Di lobi pagi hari, anda bisa menyaksikan sendiri proses pembuatan batik dan mendengarkan musik gamelan secara langsung. Walaupun tidak terlalu maksimal memainkannya, tetapi alunan gamelan dan bau khas lilin batik akan terasa kental di lobi hotel pagi itu.

Di area kolam renang, ada bar kecil yang menjadi daya tarik disana. Anda bisa memesan beberapa pilihan menu disana sambil menikmati kolam renangnya. Air dikolam renang hari itu sedikit kotor dan menimbulkan rasa lengket di kulit, entah hanya hari itu saja atau memang begitu keadaan seterusnya.

Setelah mandi untuk membilas air dari kolam renang, kita check out. Sangat terasa bagaimana hotel Jambuluwuk mencoba untuk memperjuangkan beberapa buadaya yang mulai tenggelam. Terimakasih akan semangatmu perjuanganmu Jambuluwuk Malioboro Boutique Hotel. :)